Tuesday, 12 June 2018

Kosong

Sunyi malam makin membingit.
Seakan mengerti hujan di hati.
Kerlipan bintang makin terang kian larut malam.
Maka bermulalah duniaku penuh kelabu.

Ya, inilah aku.

Bukan, itulah dia.

Kau sering kali tertipu,
Hatinya penuh parut tak berjahit,
Luka itu dibiar sembuh dengan senyuman,
Keparat langsung tiada siapa mengerti.

Dia benci akan dirinya,
Ya dia bersendiri acap kali waktu berubah,
Dari terang dunia hingga malapnya angkasa,
Irama sama seperti jiwanya kala itu.

Harus dia perlu tenangkan hatinya,
Jangan biar yang lain terjaga dek esakan tangisnya,
Tepuk bahu angin malam bisik kata asmara,
Maka terhentilah hentakkan kuat jiwa memberontak.

Jiwanya sakit,
Hatinya perit.


No comments:

Post a Comment