Saturday, 2 March 2019

Biasa

We are always blinded by the imperfections in the most perfect thing ever - mato's mom

Izikan aku berbicara seperti biasa,
Berpetah mulut bercerita sentiasa,
Meluahkan apa saja yang tersirat,
Penat dibiar sarat tersimpan,

Aku masih terkaku,
Ingin kan aku meluah segalanya,
Namun saat bibir membuka kata,
Hatta otak sudah menyusun bicara.

Tarik nafas ku pendam semula.

Mengapa aku begitu,
Kenapa nikmat mulut ku biar membisu,
Atas papan kekunci jariku menari,
Masih sama kisahku sepi.

Lama ku mencari idea mengorak langkah,
Mencari ayat untuk penulisanku,
Menembus awan mencari ilham,
Membelah lautan masih kelu.

Ya aku teringat, ibu kata,
Aku terlalu mencari kesempurnaan,
Mengambil masa lama menolak apa di depan mata,
Walau itu yang terbaik,
Aku masih mengatur langkah pergi mencari.

Apa yang aku dapat...

Aku terlalu mahukan kesempurnaan,
Sehingga kadang aku rasa terlalu bodoh,
Aku tak mampu membuat itu ini,
Betapa kerdilnya diriku.

Ibu bantulah aku,
Aku rindukan kata nasihatmu,
Semuanya buat ku sedar,
Aku harus bersyukur.

Namun saat kita bersama,
Aku membuka lain cerita,
Masalah ku biarku tanggung seorang,
Sebab aku tahu aku mampu.

Sombongkah aku...

No comments:

Post a Comment